Pasar itu bernama Pasar Kangen

Pasar pada umumnya adalah tempat bertemunya penjual dan pembeli. Tetapi berbeda dengan apa yang ada di Jogja. Iya, Pasar Kangen namanya. Acara ini berlangsung dari tanggal 21-23 juni 2013. Sabtu kemarin saya berkesempatan untuk mengunjungi acara ini. Acara ini sama sekali tidak dipungut bayaran. Dalam pasar kangen ini terdapat beberapa acara yaitu, kuliner khas jogja, pameran lukisan dan batik, pameran barang-barang unik dan antik, hingga pertunjukan wayang.

Selamat datang di Pasar Kangen!

Image

Berhubung saya memiliki darah Jawa yang diwariskan oleh sang ibu, maka saya langsung menuju ke tempat pertunjukan wayang. Saya menikmati musik gamelan khas jawa yang mengalun sepanjang pertunjukan wayang tersebut. Saya juga mencoba menikmati dan memahami alur cerita yang di lantunkan oleh Dalang. dan akhirnya saya menyerah, karena tidak mengerti dengan cerita yang di lantunkan oleh dalang tersebut. hehe. Tetapi walau begitu, saya tetap menikmati pertunjukan wayang tersebut.

Image

Setelah puas dengan pertunjukan wayang tersebut, saya lantas berjalan-jalan mengitari apa yang ada di pasar tersebut.

Untuk penggemar sepeda kuno, mungkin pasar ini pasar yang cocok untuk anda. Karena di pasar ini menjual beberapa aksesoris dan spare part sepeda kuno tersebut. Saya sempat melihat beberapa sepeda kuno tahun 1960-an. Sepeda-sepeda kuno tersebut di jual dengan harga yang cukup wow bagi saya hehe. Tapi harga tersebut tidak menjadi masalah bagi para pencinta sepeda kuno. Yep, it’s a passion.

Image

Image

Seperti yang sudah saya sebutkan diatas, bahwa di pasar ini juga menjual barang-barang oldies. Mungkin yang telintas di fikiran kita ketika melihat barang-barang tersebut adalah “untuk apa membeli barang yang sudah tidak memiliki fungsi?”. Ini berbeda dengan apa yang ada di pikiran kolektor barang-barang tua dan barang unik. Mereka rela mengeluarkan rupiah demi mendapatkan barang tersebut untuk dijadikan sebuah koleksi. Even, di pasar ini ada yang menjual majalah keluaran tahun 1963, dengan segala Ejaan yang belum disempurnakan. hehe. Ada juga yang menjual koleksi perangko-perangko tua di era 1960-an. Mereka inilah yang disebut filateli. Saya sempat bertanya dalam hati, apa masih ada orang yang memiliki hobi tersebut. Sepertinya sudah sangat jarang, karena era kita sekarang sudah bersifat serba digital.

Image

Image

Image

Yang paling berkesan dari pameran barang-barang antik ini adalah terdapat sebuah barang, mainan lebih tepatnya yang seketika membawa saya kembali ke masa lalu. Ini mainan tersebut:

Image

Yep, mainan diatas sangat berperan penting untuk membuat saya kembali ke masa lalu, masa di mana yang saya pikirkan adalah bermain, bermain dan bermain. Sangat senang rasanya mainan tersebut dibelikan oleh ibu saya kala itu, meski umurnya tidak sampai satu minggu. hehe. Ah, indahnya masa kala itu. Sempat saya berfikir untuk membeli kembali mainan ini. Namun, saya berfikir mainan ini sudah sangat tidak relevan dengan kebutuhan saya yang sekarang. Mungkin karena saya bukan kolektor. hehe.

Setelah puas berkeliling melihat-lihat barang antik, saya langsung menuju ke pameran lukisan yang juga digelar di pasar kangen tersebut. Berikut beberapa lukisan yang sempat saya abadikan menggunakan kamera ponsel saya.

Image

Image

Lukisan ini merupakan lukisan yang paling saya sukai, karena lukisan ini sangat simple dan bagus. Iya, se-simple itu saya mengatakan bahwa lukisan ini sangat bagus.

IMG_0022

 

 

 

 

 

 

IMG_0025 IMG_0026 IMG_0027 IMG_0028

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Dari beberapa karya diatas terdapat lukisan yang bersifat abstrak, hanya sang pembuat karyanya saja yang mengerti apa yang hendak disampaikan oleh lukisan tersebut. Walau begitu, saya tetap saja dapat menikmati lukisan-lukisan tersebut.

Hanya satu yang menggangu saya dalam pameran lukisan ini. Pengunjung yang melihat-lihat lukisan ini terlihat mengabaikan apa yang sudah di larang oleh panitia. Padahal sudah dengan jelas terpampang tulisan “DILARANG MENYENTUH KARYA”. Walau sudah ada tulisan tersebut, tapi tetap saja para pengunjung menyentuh hasil karya tersebut, entah karena mereka iseng atau hanya ingin memuaskan rasa penasaran mereka untuk menyentuh karya tersebut. Tetapi saya tetap berprasangka baik terhadap mereka, saya beranggapan bahwa mereka yang tetap menyentuh karya tersebut adalah pelancong yang berasal dari luar negeri yang tidak mengerti arti dari peringatan yang dibuat oleh panitia. hehe.

Tak terasa perut saya mulai merasa keroncongan hehe. Akhirnya saya memutuskan untuk singgah di kopi joss yang berada di seputaran stasiun tugu. Kopi joss ini sangat unik karena kopi nya bercampur arang. Saya pun menyantap 3 bungkus nasi kucing, 4 sate kikil, 2 sate telur puyuh, 1 sate kulit, dan ditutup dengan segelas susu hangat. Yang paling nikmat dari hal tersebut adalah saya ditraktir oleh teman saya. hehe. Dan setelah menyantap makanan saya pun bergegas pulang kerumah.

Best Regard,

 

Angga Permadi Karpriana

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s